Mengenal Proses Produksi Produk Injeksi: Sterilisasi Akhir vs. Aseptis

Mengenal Proses Produksi Produk Injeksi: Sterilisasi Akhir vs. Aseptis

Production Facilities - PT. Kimia Farma Sungwun Pharmacopia

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Produk injeksi merupakan sediaan farmasi berisiko tinggi yang menuntut penerapan sterilisasi ketat karena tenaga kesehatan memberikan sediaan ini langsung ke dalam tubuh melalui jalur parenteral. Berbeda dengan sediaan oral atau topikal, produk injeksi tidak melewati mekanisme pertahanan alami tubuh seperti sistem pencernaan atau kulit. Oleh karena itu, industri farmasi menempatkan aspek keamanan, mutu, dan sterilitas sebagai prioritas utama dalam proses produksi produk injeksi. Bahkan, kontaminasi mikroorganisme dalam jumlah sangat kecil sekalipun dapat memicu infeksi serius, reaksi sistemik, hingga berujung pada kematian pasien.

Salah satu faktor kunci yang menjamin keamanan produk injeksi adalah penerapan metode sterilisasi yang tepat. Dalam praktik industri farmasi, pelaku industri menerapkan dua pendekatan utama untuk mencapai kondisi steril, yaitu proses aseptis dan sterilisasi akhir. Setiap metode memiliki prinsip berbeda, tingkat jaminan sterilitas yang bervariasi, serta persyaratan fasilitas dan sistem mutu khusus. Oleh karena itu, produsen harus memilih metode sterilisasi berdasarkan karakteristik produk, stabilitas bahan aktif, dan risiko kontaminasi.

Perbedaan Proses Aseptis dan Sterilisasi Akhir

  • Proses Aseptis

Proses aseptis merupakan pendekatan produksi yang memusatkan perhatian pada pencegahan masuknya mikroorganisme patogen ke dalam produk selama seluruh tahapan produksi. Istilah aseptis menggambarkan kondisi bebas mikroorganisme patogen yang dicapai dengan mencegah kontaminasi sejak awal proses produksi. Oleh karena itu, proses ini menuntut produsen untuk mengendalikan lingkungan, peralatan, bahan, dan personel secara sangat ketat.

Ciri utama proses aseptis terletak pada ketiadaan tahap sterilisasi setelah produk mencapai bentuk akhir dan kemasan. Sebagai konsekuensinya, produsen harus melaksanakan seluruh tahapan produksi dalam lingkungan yang terkendali. Apabila produsen gagal menjaga kondisi aseptis pada salah satu tahapan, produk dapat mengalami kontaminasi secara permanen.

Produsen menerapkan proses aseptis pada produk yang tidak tahan terhadap sterilisasi panas, radiasi, atau bahan kimia. Pada produk semacam ini, proses sterilisasi berpotensi merusak stabilitas kimia, menurunkan potensi, atau mengubah struktur molekul bahan aktif. Beberapa contoh produk yang menggunakan proses aseptis meliputi vaksin hidup, seperti vaksin MMR, sediaan biologis, obat tetes mata steril, serta berbagai produk berbasis protein dan enzim.

Keberhasilan proses aseptis sangat bergantung pada penerapan teknik aseptik yang ketat. Produsen menerapkan teknik ini melalui ruang bersih berkebersihan tinggi, prosedur terdokumentasi, serta penggunaan peralatan dan bahan steril. Selain itu, perusahaan mewajibkan personel yang terlibat untuk menjalani pelatihan khusus dan mematuhi prosedur gowning, termasuk penggunaan sarung tangan steril, gaun steril, masker, dan penutup kepala. Industri farmasi menganggap manusia sebagai sumber kontaminasi utama, sehingga pengendalian perilaku dan disiplin kerja menjadi sangat krusial.

  • Sterilisasi Akhir

Berbeda dengan proses aseptis, sterilisasi akhir berfokus pada penghancuran seluruh mikroorganisme hidup setelah produk mencapai bentuk akhir dan produsen mengemasnya. Dengan kata lain, produsen menambahkan satu tahap sterilisasi pada produk yang telah diformulasi dan dikemas untuk memastikan tidak ada mikroorganisme patogen yang tersisa.

Sterilisasi akhir memberikan tingkat jaminan sterilitas yang lebih tinggi dibandingkan proses aseptis karena metode ini secara langsung menghancurkan mikroorganisme yang masih mungkin muncul akibat kontaminasi selama proses produksi. Industri farmasi banyak menerapkan metode ini pada produk injeksi dan alat medis yang mampu mempertahankan mutu selama proses sterilisasi. Produk yang umum menggunakan sterilisasi akhir antara lain obat suntik tertentu, implan, alat bedah, serta berbagai perangkat medis yang bersentuhan langsung dengan jaringan tubuh.

Produsen dapat menerapkan berbagai metode sterilisasi akhir, seperti panas, radiasi, filtrasi, atau agen kimia, sesuai dengan karakteristik produk. Dalam industri farmasi, pelaku industri umumnya memandang sterilisasi akhir sebagai metode yang memberikan jaminan sterilitas lebih tinggi. Namun, metode ini memiliki keterbatasan karena sebagian produk tidak mampu mempertahankan stabilitasnya ketika menghadapi kondisi sterilisasi yang ketat. Selain di industri farmasi, pelaku industri juga menerapkan prinsip sterilisasi akhir di sektor lain, seperti industri pangan. Sebagai contoh, industri pangan menerapkan sterilisasi akhir melalui proses pengalengan makanan dan sterilisasi susu untuk menjamin keamanan produk sebelum masyarakat mengonsumsinya.

Kapan Proses Aseptis atau Sterilisasi Akhir Dipilih?

Penentuan pilihan antara proses aseptis dan sterilisasi akhir didasarkan pada karakteristik produk yang akan diproduksi. Dalam pengambilan keputusan, produsen mempertimbangkan stabilitas bahan aktif, sensitivitas terhadap panas atau radiasi, serta risiko kontaminasi. Produsen memilih proses aseptis ketika produk tidak memungkinkan untuk menjalani sterilisasi setelah formulasi akhir. Dalam kondisi ini, produsen menerapkan strategi pencegahan masuknya mikroorganisme sejak tahap awal produksi. Produsen juga merancang setiap tahapan produksi secara cermat agar dapat menekan risiko kontaminasi seminimal mungkin. Meskipun proses ini memberikan fleksibilitas bagi produk yang sensitif, produsen harus menerapkan tingkat pengendalian yang sangat tinggi dan kompleks.

Sebaliknya, produsen memilih sterilisasi akhir untuk produk yang mampu menjalani proses sterilisasi tanpa mengalami penurunan mutu. Metode ini memberikan jaminan keamanan yang lebih tinggi karena secara langsung menghancurkan mikroorganisme secara menyeluruh. Oleh karena itu, jika kondisi teknis memungkinkan, produsen sering menjadikan sterilisasi akhir sebagai pilihan utama dalam produksi produk injeksi. Secara konseptual, kita dapat menganalogikan perbedaan kedua pendekatan ini sebagai berikut: sterilisasi akhir secara langsung menghancurkan mikroorganisme, sedangkan proses aseptis berperan sebagai sistem penghalang yang mencegah mikroorganisme masuk ke dalam produk sejak awal proses produksi.

Penerapan Prinsip Aseptis di Fasilitas Kesehatan

Penerapan prinsip aseptis tidak hanya menjadi standar industri farmasi, tetapi juga penting dalam pelayanan farmasi rumah sakit. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 72 Tahun 2016, pencampuran sediaan steril, termasuk intravena, harus dilakukan terpusat di Instalasi Farmasi dengan ruang bersih ber-Laminar Air Flow untuk mencegah kontaminasi dan infeksi nosokomial. Seluruh proses—mulai persiapan, penyimpanan, hingga transportasi—memerlukan kondisi aseptik konsisten serta personel terlatih. Dengan teknik aseptik dan prosedur standar, fasilitas kesehatan dapat menjaga sterilitas produk, melindungi petugas, dan meminimalkan kesalahan obat. Namun, di negara berkembang seperti Indonesia, implementasinya masih terkendala fasilitas dan tenaga terlatih.

Teknik dan Metode Sterilisasi dalam Produksi Farmasi

Sterilisasi memegang peran penting dalam produksi farmasi karena proses ini bertujuan menghilangkan atau menghancurkan mikroorganisme melalui berbagai metode, seperti panas, radiasi, filtrasi, dan penggunaan agen kimia. Berdasarkan media dan mekanisme kerjanya, industri farmasi membedakan sterilisasi panas menjadi panas kering dan panas basah. Panas kering menggunakan suhu tinggi tanpa uap untuk bahan tahan panas, sedangkan panas basah memakai uap bertekanan melalui autoklaf. Selain metode panas, industri juga menerapkan sterilisasi menggunakan radiasi, baik radiasi gamma maupun sinar ultraviolet. Radiasi gamma merusak DNA mikroorganisme untuk produk medis sekali pakai, sedangkan sinar ultraviolet mensterilkan permukaan dan udara dengan penetrasi terbatas.

Selain itu, industri farmasi sering menggunakan metode sterilisasi filtrasi dengan cara menyaring mikroorganisme dari cairan atau gas menggunakan membran berpori kecil, sehingga metode ini sesuai untuk bahan yang tidak tahan panas. Industri juga menerapkan sterilisasi kimia, seperti etilen oksida dan hidrogen peroksida plasma, untuk peralatan medis sensitif panas. Industri farmasi menerapkan metode sterilisasi sesuai karakteristik produk dan kemampuan fasilitas, berbeda dengan teknik aseptik yang bersifat preventif.

Syarat Fasilitas dan Sistem Mutu dalam Produksi Produk Injeksi

Klasifikasi Ruang Bersih dalam Produksi Steril

Baik proses aseptis maupun sterilisasi akhir membutuhkan fasilitas produksi dan sistem mutu yang sangat ketat. Dalam produksi produk injeksi, ruang bersih berperan penting mengendalikan partikel dan mikroorganisme untuk meminimalkan risiko kontaminasi. Menurut Badan POM RI, ruang bersih merupakan ruangan dengan kondisi lingkungan terkendali yang digunakan untuk pembuatan sediaan obat steril. Badan POM RI mengklasifikasikan ruang bersih ke dalam beberapa kelas kebersihan, yaitu kelas A, B, C, D, dan E, berdasarkan tingkat risiko serta persyaratan kebersihan yang harus dipenuhi.

Kelas A menjadi zona dengan risiko tertinggi dan mendukung kegiatan seperti pengisian produk steril, penanganan ampul dan vial terbuka, serta proses penyambungan aseptis, dengan dukungan sistem aliran udara laminar (Laminar Air Flow). Kelas B berperan sebagai lingkungan latar belakang bagi zona kelas A, khususnya dalam proses pembuatan dan pengisian secara aseptis. Selanjutnya, kelas C dan D mendukung tahapan proses berisiko lebih rendah, sedangkan kelas E atau grey area menangani pengolahan produk nonsteril dengan persyaratan kebersihan yang lebih longgar.

Sumber: CPOB (2024)

Persyaratan Desain Ruang Bersih

Selain klasifikasi ruang, desain fisik ruangan juga memenuhi persyaratan tertentu. Pengelola fasilitas merancang permukaan ruangan agar kedap air, bebas celah dan retakan, mudah dibersihkan, serta tidak mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Tim teknis menempatkan instalasi pipa udara dan kabel listrik di atas langit-langit serta memasang lampu sejajar dengan permukaan langit-langit untuk memudahkan pembersihan. Industri farmasi memilih material ruangan yang tahan terhadap bahan pembersih dan desinfektan yang digunakan secara rutin.

Pembagian Area Produksi

Dalam praktiknya, pengelola pabrik membagi area produksi menjadi empat zona utama, yaitu unclassified area, black area, grey area, dan white area. Unclassified area mencakup area yang tidak dikendalikan secara ketat, seperti kantor, gudang, dan laboratorium kimia. Black area atau kelas E berperan sebagai area transisi, sedangkan grey area atau kelas D menampung kegiatan produksi nonsteril. Sementara itu, white area mencakup kelas C, B, dan A serta mendukung pelaksanaan proses produksi steril dan pengujian mikrobiologi.

Sistem Pendukung Pengendalian Kontaminasi

Untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang antar zona, pengelola fasilitas menggunakan airlock sebagai ruang penyangga antara dua area dengan kelas kebersihan yang berbeda. Selain itu, pengelola fasilitas mengoperasikan sistem HVAC (Heating, Ventilating, and Air Conditioning) untuk mengatur kondisi lingkungan produksi, seperti suhu, kelembaban relatif, tekanan udara, dan tingkat kebersihan, sesuai dengan kelas ruang yang telah ditetapkan.

 

Proses aseptis dan sterilisasi akhir merupakan dua pendekatan utama dalam produksi produk injeksi yang sama-sama memiliki peran penting dalam menjamin keamanan, mutu, dan efektivitas produk. Pemilihan metode yang tepat harus mempertimbangkan karakteristik produk, risiko kontaminasi, serta kesiapan fasilitas dan sistem mutu. Dengan penerapan prinsip CPOB yang konsisten, industri farmasi dapat menghasilkan produk injeksi yang aman dan berkualitas tinggi.

 

Bagi pelaku industri farmasi, tenaga profesional, dan pemangku kepentingan di bidang kesehatan, pemahaman yang mendalam mengenai perbedaan proses aseptis dan sterilisasi akhir merupakan langkah strategis dalam meningkatkan mutu produk injeksi. Pastikan fasilitas produksi, sistem mutu, dan prosedur operasional telah memenuhi standar regulatori yang berlaku. Lakukan evaluasi risiko secara berkala, tingkatkan kompetensi personel, dan terapkan praktik produksi yang baik agar produk injeksi yang dihasilkan tidak hanya memenuhi persyaratan regulasi, tetapi juga memberikan perlindungan maksimal bagi pasien.